BBRL(Bahan Bakar Ramah Lingkungan)

Bahan Bakar Ramah Lingkungan

PEC adalah nama negara-negara yang tergabung sebagai penghasil minyak mentah, memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan kepada dunia, bahwa persediaan minyak dunia berkisar 400 milyar barel. Menurut para ahli cadangan minyak yang demikian itu hanya mampu bertahan hanya sekitar 40 tahun saja ke depan. Dengan cacatan pemakai minyak dunia tidak bertambah dari tahun ketahun. Untuk itulah negara-negara yang tergabung sebagai negara OPEC bersikeras mencari solusi pengganti bahan bakar minyak dengan bahan bakar lain.
Dalam acara a Round Table Discussion dengan tema Membedah PP Cost Recovery : Implementasi Aturan Baru Cost Recovery Menuju Kamajuan Industri Hulu Migas Nasional yang digelar oleh Forum Wartawan ESDM, di Hotel kartika Chandra, Jakarta. Edy Hermanto (kementerian ESDM) mengatakan bahwa, cadangan minyak Indonesia kini semakin menipis, padahal Indonesia awalnya tergolong sebagai negara pengekspor minyak mentah (pada tahun 1980 produksi minyak mentah Indonesia bisa mencapai 1,7 juta barel/hari yang dikelola oleh Pertamina), tetapi kini malah berbalik sembilan puluh derajat, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Bagi negara Indonesia untuk mengurangi pemakaian bahan bakar minyak, pemerintah menganjurkan kepada masyarakat untuk berhemat atau mengurangi pemakaian bahan bakarnya setiap hari. Mengingat untuk setiap tahunnya di Indonesia untuk pemakaian bahan bakar minyak meningkat 6% per tahunnya.
Setelah kenaikan harga BBM dunia beberapa waktu lalu, rencana menggantikan bahan bakar minyak dengan energi terbarukan mulai ramai kembali dibahas. Salah satu alternatif bahan bakar ramah lingkungan berbahan dasar dari tanaman jarak dan kelapa sawit yang bisa dibuat sebagai bahan biodiesel. Selain kelapa sawit dan biji jarak, masih ada lagi singkong dan tebu bisa dibuat ethanol. Penelitian dan pengembangan biodiesel dan bioethanol terus dilakukan oleh parah ahli perminyakan dengan sungguh-sungguh, hal demikian dikarenakan dengan isu global tentang semakin tingginya permintaan dunia akan kebutuhan energi. Program-Alkohol Nasional pernah dilaksanakan di negara Brazil, dikarenakan dipicu terjadinya krisis minyak. Brazil berhasil menghemat bahan bakar minyaknya dengan cara mengurangi penggunaan mobil-mobil yang berbahan bakar bensin. Meninggikan pajak bensin dan mensubsidi silang ke bahan bakar ethanol, dengan demikian industri ethanol di negara Brazil berkembang baik.
Di Indonesia penelitian dan pengembangan bahan bakar non fosil juga mulai dikembangkan oleh para kalangan akademisi. Pemerintah indonesia juga telah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesian Nomor 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Intruksi Presiden Nomor 1 tahun 2006 tanggal 25 Januari, tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel). Lewat usaha Pemerintah dalam mengupayakan penghematan bahan bakar minyak dan mencari sumber energi terbarukan, telah mendapat sambutan dari berbagai kalangan di masyarakat mulai dari kalangan industri otomotif, perguruan tinggi, komunitas energi terbarukan dan instansi pemerintah yang menangani bidang teknologi.
Kalau kita lihat tentang keberhasilan pemerintah Brazil dalam menangani program Pro-Alkohol, semua itu tak lepas dari keikutsertaan dari berbagai pihak untuk turut menyukseskan program biofuel sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak. Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah dalam usaha pengadaan bahan dasar biofuel seperti tebu, para petani diberikan kemudahan usaha oleh pemerintah Brazil. Bahkan pemerintah Brazil memberikan rangsangan subsidi kepada lembaga atau masyarakat yang terlibat dalam pro-Alkohol, seperti pengadaan mesin-mesin pertanian tebu, mobil pengangkut bahan tebu, dll hal ini dilakukan oleh pemerintah Brazil demi tercapainya pro-Alkohol.
Di Indonesia sedang dikembangkan bahan bakar biofuel untuk memecahkan persoalan krisis bahan bakar minyak, dan benarkah bahan bakar biofuel bisa mengatasi persoalan energi, serta apa saja yang harus dilakukan baik oleh kalangan akedemisi/peneliti dan pemerintah agar bahan bakar yang ramah lingkungan dapat dilaksanakan dan berjalan dengan lancar. Semua ini memerlukan suatu kajian yang amat mendalam serta cukup rumit, sebab untuk mewujudkan energi terbarukan yang ramah lingkungan tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak factor yang harus diperhitungkan mulai dari iklim di Indonesia, lokasi lahan pertanian, teknik, industri yang mengelola, dan subsidi silang, sebelum benar-benar tercapainya program pemerintah memasyarakatkan penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan.
Di awal pengenalan bahan bakar biofuel di Indonesia untuk penggunaan bahan bakar yang terbuat dari tanaman, masih sekitar mencampur bensin dengan kadar 5-10%. Priyadi (penulis di blog) mencoba menghitung perbandingan tentang luas lahan yang dibutuhkan untuk menanam tebu atau jarak untuk kebutuhan pembuatan bioethanol dan biodiesel. Dari hasil perhitungan, dapat diketahui untuk memenuhi target kebutuhan bahan bakar masyarakat di Indonesia di tahun 2003, lahan yang dibutuhkan seluas 23672 juta km2 untuk bertanaman tebu, sedangkan untuk pohon jarak 83773 juta km2. Jika melihat tentang instruksi Presiden RI tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai pengganti bahan bakar minyak, jangan hanya sekedar ikut-ikut latah ramai-ramai turut serta melakukan pengembangan bahan bakar biofuel yang merupakan isu global, tetapi diharapkan juga mampu menjawab tantangan dan pertanyaan-pertanyaan sudah benarkah pengembangan biofuel di Indonesia dilakukan.? Dan jangan pula dengan kecenderungan hanya sebatas hangat-hangat kotoran ayam, tetapi usaha yang benar-benar dilakukan oleh Pemerintah dalam menangani krisis energi untuk mengatasi persoalan energi Bangsa ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogger Snesma

noviekurniawan.blogspot

>.